DILEMA ANTARA GEREJA DAN IPTEK
OLEH: Sintya A Faradilla
A. LATAR BELAKANG MASALAH
Teknologi yang memiliki tujuan membantu dan mempermudah manusia dalam memecahkan persoalan terus-menerus meningkat baik jenis, kuantitas maupun kualitasnya. Dengan menggunakan teknologi manusia dapat terbantu dalam menyelesaikan pekerjaan tertenu, bahkan lebih cepat, biaya relatif rendah, dan dapat menghasilkan produksi yang lebih banyak. Pada masa sekarang orang dapat memanfaatkan teknologi untuk mendapatkan kesenangan dan kenyamanan, berkomunikasi yang muda walaupun dalam jarak jauh, dan mengisi waktu luang dengan permainan yang menantang. Bahkan yang lebih bahaya lagi apabila disalahgunakan ketika beribadah. Kenyataannya manusia pada masa modern sekarang sudah hampir tidak lepas dari teknologi untuk membantu dalam kehidupannya.
Dalam permasalahan tersebut Gereja harus bijak dalam menyikapi permasalahan IPTEK dikalangan umat. Namun tidak dapat dipungkiri bawa Gereja masih dalam bayangan masa lampau, Gereja menganggap bahwa teknologi itu jahat Gereja harus hadir untuk membawa terang dan pencerahan bagi umat sebab IPTEK juga masuk dalam kehidupan gerejawi.
Sejak abad ke-20, manusia sangat dipengaruhi oleh norma-norma moral yang melibatkan tindakan-tindakan etisnya dalam menghadapi ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Gereja dan IPTEK dapat menimbulkan dilema bagi manusia jika tidak tepat mempertimbangkan relasi dan hubungan keduanya. Maka sangat perlu mejebatani Gereja dan IPTEK, apalagi dalam konteks dunia yang semakin komplek dengan tantangan jaman dan diharapkan dapat memiliki pemahaman yang benar tentang IPTEK sehingga dapat memanfaatkan dan mengembangkan IPTEK sesuai dengan kebutuhan Gereja.
B. Isi
1. Sejarah Gereja Dan IPTEK
Sejarah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) tidak bisa dilepaskan begitu saja dari upayanya melepaskan diri dari kekuasaan gereja. Sekularisme yang melanda Barat merupakan buah dari perjuangan panjang tersebut. Oleh karena itu banyak yang berpendapat adalah kurang tepat untuk menyamakan bangsa Barat dengan Kristiani atau Nasrani begitu saja karena pada dasarnya yang menjiwai manusia Barat bukanlah nilai-nilai Kristiani saja, tetapi lebih dari itu adalah sekularisme. Gereja, yang diwujudkan dalam bentuk bangunan maupun kebiasaan yang berkaitan dengannya, lebih merupakan warisan budaya yang memang dulunya pernah dikuasai oleh gereja yang saling kompromi dengan kekuasaan negara.
Abad di mana kekuasaan gereja begitu mendominasi sehingga interpretasi terhadap kebenaran sepenuhnya berada di tangan gereja, kemudian dikenal sebagai “abad kegelapan” , suatu sebutan yang sebetulnya ironis, karena gereja seringkali menyebut dirinya sendiri sebagai “pembawa terang”! Namun sebutan tersebut sekaligus juga menunjukkan munculnya antipati masyarakat Barat sendiri terhadap gereja dan ajarannya. Masyarakat Barat menaruh ketidakpercayaan yang besar bahkan mendalam terhadap ajaran gereja, mencurigai dan sekaligus bersikap skeptis mengenai kebenaran yang diajarkan oleh gereja.
Sumber ketidakpercayaan yang mendalam terhadap ajaran gereja bermuara dari begitu banyaknya korban akibat memegang keyakinan secara membuta terhadap dogma gereja beserta segenap ajarannya, tanpa dilandasi dengan fakta yang objektif. Begitu banyak orang yang dipenjarakan, disiksa bahkan dibunuh karena memegang fakta yang diyakini mereka sebagai kebenaran, yang berbeda dengan kebenaran yang diwartakan oleh gereja, yang waktu itu diyakini bersumber dari kitab suci. Melawan ajaran gereja disamakan dengan melawan kitab suci dan oleh karena itu berarti melawan Allah sehingga perlu mendapatkan hukuman! Mereka dianggap sebagai tersesat dan kalau mengaku salah serta bertobat, baru mendapatkan pengampunan. Gereja pada waktu itu betul-betul menganggap dirinya sebagai penguasa mutlak untuk interpretasi atas kebenaran dan pengetahuan.
Sejak awal kemunculannya pada abad ke – 16, ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) mulai mengemukakan gagasan baru yang mengubah pandangan atau gambaran tentang alam semesta, kedudukan manusia di dunia, pandangan mengenai Tuhan sendiri, bahkan akhir-akhir ini mengenai misteri manusia yang mulai dikuak oleh psikologi, suatu ilmu pengetahuan yang relatif muda karena baru muncul pada awal abad ke – 19. Tentu saja ini membawa ketegangan yang terus-menerus terhadap ajaran dan dogma gereja yang cenderung statis. Ajaran gereja cenderung mencurigai ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) karena seringkali penemuan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK)dianggap bisa menggoyahkan iman pemeluknya. Thomas, salah satu murid Yesus, sering dianggap mewakili ciri sikap ilmiah yang selalu bersikap skeptis, tidak begitu saja mempercayai sesuatu tanpa disertai bukti konkrit. Sikap seperti yang ditunjukkan Thomas dimaknai secara negatif dalam kebanyakan materi kotbah sebagai sikap orang yang kurang percaya. “Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali – kali aku tidak akan percaya.” Dilupakan, bahwa Yesus pun menghargai sikap seperti yang ditunjukkan oleh Thomas dengan tetap menampakkan diri kepadanya. Ini memberikan penuntun bahwa apa yang dilakukan oleh ilmuwan dengan sikap skeptisnya tidaklah bertentangan dengan kitab suci.
Meskipun sering kali mendapatkan tentangan dari agama, lmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) terus maju memantapkan langkahnya sebagai cara manusia untuk mengetahui realita dan kebenaran, meskipun dalam perjalanannya bukan tanpa korban. Satu demi satu ilmuwan mendapatkan hukuman, dipenjara dan beberapa di antaranya bahkan dibunuh karena hasil pemikiran mereka dianggap sesat dan bertentangan dengan ajaran gereja pada waktu itu. Galileo sebagai contohnya.
Galileo Galilei, seorang ilmuwan muda pada awal tahun 1600 – an berhasil membuat teleskop modern yang pertama di Eropa. Melalui teleskop tersebut, Galileo melakukan pengamatan terhadap alam semesta. Ilmu astronomi kala itu merupakan ilmu yang bagi kebanyakan orang masih dipandang berbau magis dan sekaligus ilmu pengetahuan dan tekologi (IPTEK). Sebelum Galileo, tidak ada alat yang mencukupi untuk mempelajari alam semesta secara lebih rinci. Orang pada waktu itu mengikuti sistem Ptolomeus untuk menjelaskan alam semesta. Teori Ptolomeus mendapatkan dukungan dari Gereja karena menyatakan bahwa bumi adalah pusat tata surya. Matahari, bulan dan bintang berputar mengelilingi bumi. Teori ini memberikan penjelasan yang waktu itu berdasarkan logika Aristoteles, cukup masuk akal. Apalagi apa yang dinyatakan oleh teori Ptolomeus tersebut mendapatkan pembenaran dari Kitab Suci.
Dengan bantuan teleskopnya, Galileo menemukan bahwa Venus mengelilingi matahari, bukan mengelilingi bumi seperti yang diyakini pada waktu itu. Kalau venus mengelilingi matahari, sedangkan matahari dan planet – planet lain mengelilingi bumi, sistem tata surya menjadi kompleks, rumit, dan membingungkan. Oleh karena itu teori alam semesta dengan bumi sebagai pusat patut dicurigai. Sebagai gantinya, Galileo menyetujui gagasan Copernicus, seorang imam Polandia yang pada tahun 1543 menyatakan gagasan, adalah jauh lebih sederhana secara matematis bila bumilah yang mengelilingi matahari, bukan sebaliknya.
Tentu saja pendapat Galileo yang mendukung hipotesis Copernicus mendapatkan tentangan dari pihak Gereja. Pada tahun 1616 Gereja mengumumkan bahwa hipotesis Copernicus yang menyatakan bahwa bumi berputar mengelilingi matahari, secara formal sesat karena dengan jelas bertentangan dengan ajaran Kitab Suci baik menurut arti harfiahnya maupun berdasarkan penafsiran umum Bapa – bapa Gereja. Namun Galileo tetap saja mengembangkan pendapatnya yang diyakininya sebagai kebenaran, meskipun dengan hati – hati. Pada tahun 1610 Galileo menerbitkan buku yang berjudul Siderius Nuntius, yang menjadi kontroversi mengenai alam semesta. Akhirnya dia mendapatkan hukuman semacam tahanan rumah. Pada bulan tanggal 22 Juni 1633 teorinya secara resmi dikecam oleh Gereja dan dinyatakan sebagai sesat. Galileo dipaksa sambil bersumpah akan menolak kepercayaan pada alam semesta heliosentris (matahari sebagai pusat tata surya) dan bahwa bumi tidak bergerak mengelilingi matahari. Pemaksaan ini perlu agar bisa menghindari hukuman pengucilan dan bahkan mungkin kematian yang lebih dini (dan tidak wajar).
Kebenaran pada akhirnya tetap akan menyatakan dirinya. Ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) terus maju, teleskop buatan Galileo terus disempurnakan dan semakin banyak yang menggunakan sehingga dengan sendirinya semakin banyak orang yang mengakui kebenaran pendapat Galileo. Lalu bagaimana dengan gereja sendiri? Baru pada tahun 1822 Gereja Katolik secara formal mengizinkan sistem heliosentris diajarkan di negeri – negeri Katolik. Kemudian baru pada tahun 1992 (kurang lebih 300 tahun kemudian!) Paus Yohanes Paulus II mengeluarkan permintaan maaf Gereja Katolik secara anumerta kepada Galileo.
Kebanyakan ilmuwan yang pendapatnya bertentangan dengan ajaran gereja pada waktu itu, kehidupan pribadi mereka termasuk juga iman kepercayaan mereka sebenarnya kuat berpegang pada Kitab Suci. Orang lain dan para pengikut yang tidak mengerti betul kehidupan merekalah yang sering kali kurang memahami pendapat mereka dengan baik sehingga temuan yang mereka dapatkan disalah mengerti atau diberi arti yang berlebihan. Newton, Darwin, sampai Einstein adalah sedikit contoh ilmuwan yang teorinya menggemparkan dunia bahkan membawa implikasi pada pemahaman teologis, ternyata memiliki kehidupan pribadi yang berakar pada iman yang teguh.
Kristianitas memiliki kelebihan dibanding agama – agama lain justru karena Kristianitas telah diuji. Berkali – kali ajarannya mendapatkan kritikan, kecaman, tafsir ulang baik dari temuan ilmu pengetahuan kemudian maupun cara pandang yang baru terhadap Kitab Suci. Meskipun banyak ajarannya masih menunggu untuk digoncangkan dan diterangi oleh ilmu pengetahuan beserta teknologi yang dibawanya kemudian, namun belajar dari sejarah memungkinkan pemeluk Kristen menjadi lebih arif dalam mensikapi perbedaan pendapat yang berkaitan dengan iman kepercayaan.
2. Pengertian IPTEK dan Pandangan Alkitab Terhadap IPTEK
a. Pengertian IPTEK
IPTEK adalah akronim dari Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, yang dimaksud dengan atau pengertian tentang ilmu pengetahuan adalah pengetahuan yang didasarkan atas fakta-fakta di mana pengujian kebenarannya diatur menurut suatu tingkah laku sistem. Kamus Besar Bahasa Indonesia menyatakan bahwa ilmu pengetahuan adalah pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode tertentu, yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala-gejala tertentu. Ilmu adalah pengetahuan yang disusun dalam satu sistem yang berasal dari pengamatan, studi dan percobaan untuk menentukan hakikat prinsip tentang hal yang sedang dikaji.
Teknologi, teknologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu tekne, yang berarti pekerjaan, dan logos, berarti suatu studi peralatan, prosedur dan metode yang digunakan pada berbagai cabang industri. Teknologi adalah seluruh perangkat ide, metode, teknik benda-benda material yang digunakan dalam waktu dan tempat tertentu maupun untuk memenuhi kebutuhan manusia. Teknologi juga didefenisikan sebagai perkembangan suatu media atau alat yang dapat digunakan dengan lebih efisien guna memproses serta mengendalikan suatu masalah.
Dapat disimpulkan, ilmu pengetahuan mempunyai teori-teori atau rumusrumus yang tetap, sedangkan teknologi merupakan praktek atau ilmu terapan dari teoriteori yang berasal dari ilmu pengetahuan. Jadi ilmu pengetahuan dan teknologi saling mempunyai hubungan. Jika tidak ada ilmu pengetahuan, maka tidak akan ada teknologi. Adapun perkembangan teknologi yang begitu pesat saat ini ditandai dengan maraknya trend sosial media, sehingga penggunaan telepon genggam di kalangan masyarakat meningkat. Kecanggihan teknologi yang ditawarkan menuntut pemanfaatan secara bijak oleh penggunanya.
b. Pandangan Alkitab terhadap IPTEK
Faktafakta mengenai ilmu pengetahuan dan teknologi yang tercatat di dalam Alkitab antara lain adalah sebagai berikut:
Pertama, dalam sejarah air bah dengan jelas bahwa Allah memerintahkan Nuh membuat kapal untuk menyelamatkan ia dan keluarganya dari kebinasaan akibat air bah dan kebobrokan moral dunia pada waktu itu. Dimensi ruang dalam kapal ataupun bahan telah ditentukan oleh Allah (Kej. 6:14-15). Kedua, Ketika Musa diperintahkan untuk membuat Kemah Suci (Kel. 25:9), Allah sendiri telah menjadi arsitek yang merencanakan ruang-ruang, dimensi dan bahan untuk kemah suci tersebut (Kel. 25:1-27:21) dan bahwa kemuliaan Allah memenuhi Kemah Suci tersebut (Kel. 40:35). Ketiga, Tentang Bait Suci dan istana yang dibangun oleh Salomo (1Raj. 7- 8). Dari contoh-contoh di atas dapat dilihat bahwa Allah tidak pernah menghalangi ataupun menutup segala perkembangan IPTEK.
Akan tetapi di sisi lain, sejarah mencatat bahwa Allah juga menentang setiap penciptaan teknologi yang bermotivasikan kebesaran diri, kelompok, ataupun bangsa. Beberapa fakta Alkitab adalah sebagai berikut: Pertama, Ketika Allah memporak-porandakan Babel (Kej. 11:1-9), yang ditentang bukanlah pendirian kota dan menara Babelnya tapi motivasi yang mencari nama dan ingin menyamai Allah (Kej. 11:4).
Kedua, kemewahan, gemerlap teknologi di zaman Salomo dapat menyebabkan salomo banyak mengoleksi wanita asing sehingga dia kemudian jatuh kepada penyembahan berhala (1Raj. 11:1-13). Ketiga, ketika murid-murid menunjuk pada bangunan Bait Suci, Yesus mengatakan bahwa bangunan tersebut akan diruntuhkan (Mat. 24:1-2). Keempat, Tuhan Yesus juga menentang penyalahgunaan fungsi Bait Suci yang dibangun selama empat puluh enam tahun menjadi arena komersil (Yoh. 2:16).
Dari tinjauan Alkitab bisa disimpulkan bahwa IPTEK telah dimulai sejak awal sejarah manusia. Manusia memiliki daya cipta IPTEK karena manusia diciptakan sebagai gambar Allah dan sebagai pribadi yang berakal budi. Allah sendiri adalah pencipta alam semesta, pendorong dan pencetus ide terhadap lahirnya IPTEK. Harus diingat bahwa Yesus sendiri adalah tukang kayu (Mrk. 5:3). Yesus adalah seorang yang mengerti pondasi dan mekanika tanah (Mat. 7:24-27). Allah tidak pernah membatasi daya cipta dan kreasi manusia akan IPTEK. Namun perlu juga dicatat bahwa ide dan tujuan penciptaan IPTEK dan produknya oleh manusia akan dipengaruhi oleh pandangan-pandangannya terhadap Allah, manusia dan alam semesta.
3. Peran Gereja Terhadap IPTEK
Tujuan manusia mempelajari IPTEK tidak saja untuk menguasainya, tetapi agar penguasaan IPTEK itu dapat menyumbang untuk perkembangan manusia secara pribadi dan juga pengembangan dan kemajuan masyarakat secara bersama-sama. Peran gereja bagi perkembangan IPTEK adalah mampu mengendalikan warga jemaat agar tidak terjerumus kepada pendewaan IPTEK dengan segala perwujudannya, tetapi juga memanfaatkan serta ikut mengembangkan sesuai dengan nilai-nilai kristiani yang ada. Ilmu pengetahuan dan teknologi sangat berkaitan erat dengan gereja. Oleh sebab itu, ilmu pengetahuan, teknologi dan gereja harus berjalan selaras dan sesuai dengan pandangan Tuhan, yaitu Alkitab. Sesungguhnya, pengaruh kekristenan lah yang mendorong lahirnya ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal ini haruslah menjadi cerminan sikap kristiani yang bertanggung jawab terhadap tugas yang diberikan Allah kepada manusia sebagaimana tertulis dalam Kejadian 1:28.9 IPTEK yang kita lihat, rasakan, dan kembangkan saat ini sesungguhnya sudah ada di Alkitab meski tidak secanggih sekarang. Jadi IPTEK sudah ada dalam Alkitab sejak zaman dahulu dan di zaman yang modern ini, gereja harus dapat memanfaatkan dan mengembangkan IPTEK sesuai dengan nilai-nilai kristiani dan sebagai sarana pemberitaan Injil.
C. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
Ilmu pengetahuan dan teknologi yang sekarang ini berkembang pesat pun awalnya dilandasi oleh keyakinan teologis bahwa alam semesta ini teratur. Tuhan sudah meletakkan hukum – hukum yang pasti dan teratur sehingga manusia bisa mempelajari dan menyingkapkan hukum – hukum tersebut. Bergerak dengan keyakinan tersebut, ilmuwan terus maju untuk mulai menyingkapkan satu demi satu gejala – gejala alam yang masih dianggap misteri dan kemudian dicoba untuk diterangi oleh ilmu pengetahuan. Meskipun kemudian dalam perkembangannya ilmu pengetahuan dan teknologi bergerak dengan sangat cepat dan sering kali menguncangkan iman yang telah diajarkan secara turun – temurun, namun keyakinan yang dibawa mula – mula oleh para ilmuwan peletak dasar ilmu pengetahuan sangat terkait dengan ajaran Kitab Suci.
IPTEK telah dimulai sejak awal sejarah manusia. Manusia memiliki daya cipta IPTEK karena manusia diciptakan sebagai gambar Allah dan sebagai pribadi yang berakal budi. Allah sendiri adalah pencipta alam semesta, pendorong dan pencetus ide terhadap lahirnya IPTEK. Harus diingat bahwa Yesus sendiri adalah tukang kayu (Mrk. 5:3). Yesus adalah seorang yang mengerti pondasi dan mekanika tanah (Mat. 7:24-27). Allah tidak pernah membatasi daya cipta dan kreasi manusia akan IPTEK. Namun perlu juga dicatat bahwa ide dan tujuan penciptaan IPTEK dan produknya oleh manusia akan dipengaruhi oleh pandangan-pandangannya terhadap Allah, manusia dan alam semesta. Peran gereja bagi perkembangan IPTEK adalah mampu mengendalikan warga jemaat agar tidak terjerumus kepada pendewaan IPTEK dengan segala perwujudannya, tetapi juga memanfaatkan serta ikut mengembangkan sesuai dengan nilai-nilai kristiani yang ada. Ilmu pengetahuan, teknologi dan gereja harus berjalan selaras dan sesuai dengan pandangan Tuhan, yaitu Alkitab. Rekomendasi sebagai orang Kristen, Gereja haarus tetap menerima segala kemajuan IPTEK yang ada dengan dasar Iman Kristen, yaitu takut akan Tuhan. Hal ini berarti bahwa tidak perlu menjauhi iptek tapi justru terus mengembangkannya menjadi lebih baik lagi. IPTEK tidak menghambat iman kepecayaan kepada Tuhan, tetapi IPTEK adalah alat Gereja untuk membritakan Injil.
REFERENSI:
1.John Naisbitt, High Tech, High Touch, Pencarian Makna di Tengah Perkembangan Pesat Teknologi, pen., Dian R. Basuki (Bandung: Mizan Media Utama, 1999), 23.
2. Kealy, S.P., CSSp., 1994. Ilmu Pengetahuan dan Kitab Suci. Terjemahan & Pengantar oleh Sudarminta, SJ. Yogyakarta: Penerbit Kanisius. Hlm.18
3. Sitompul, Manusia dan Kebudayaan, 94
4. Edouard Bone, Bioteknologi dan Bioetik (Jakarta: Kanisius, 1988), 4
5. Brotosudarmo dan lainnya, Teladan Kehidupan: Pendidikan Agama Kristen Referensi KTSP dengan Kecerdasan Majemuk, 2:125.
6. Jurnal pendidikan edisi 16 file:///C:/Users/USER/Documents/4_Evi_VIII_2_042017.pdf
7. Brotosudarmo dan lainnya, Teladan Kehidupan: Pendidikan Agama Kristen Referensi KTSP dengan Kecerdasan Majemuk, 2:175.
8. A.A. Sitompul, Manusia dan Budaya (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1991), 88




